Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

07 October 2008

Sajak Tapi Tapi

Suara adalah tanda
tanda bahwa ia punya asal
tanda bahwa ia mengacu pada sesuatu

suara adalah makna
kalau ia bisa terucapkan
kalau ia bisa terdengar

makna adalah nilai
jika dia dimaknai
jika dia diyakini

keyakinan adalah jalan
seandainya ia dipahami
seandainya ia dijalani

namun...
terlalu banyak tapi bagi suara
makna, nilai dan keyakinan

tapi tapi membuat semuanya
hambar dan pudar

23 September 2008

Jazirah Luka

"sepenggal sajak dari bilik memori
Aku tak tahu darimana membacanya
Pun tak ingat siapa penyairnya"


Cintaku hanya untukmu, katamu
Namun pengembaraan panjangmu
membuat jarak kita semakin jauh
dan akupun terpenjara dalam belantara duka
yang kau tanami pohon-pohon perdu
menisik luka yang berdarah dari kain cinta yang tersisa

Cintaku hanya untukmu, katamu
Namun seperti oase
engkau memberi air pada setiap kafilah
untukku tinggal pasir dan batu
Dan akupun tertatih-tatih menapaki gurun pengharapan
yang kau bentangkan dengan sabda

Masnawi 11-17

Sesungguhnya seruling adalah ratapan bagi setiap orang yang dipisahkan waktu dari kekasihnya, nyanyiannya memenuhi tabir yang menutupi pandangan kita.

Siapa yang pernah melihat racun sekaligus penawarnya seperti seruling ini? siapa pernah melihat kawan yang begitu dirindukan seperti dia?

Seruling menceritakan kepada kita kisah jalan yang penuh dengan darah dan mendongeng tentang kisah-kisah cinta orang-orang gila.

Hikmah (yang dia kisahkan) ini tabu bagi orang yang tak berakal karena tak ada yang membeli dagangan lidah selain telinga.

Dia telah membuat hari-hari kita bagai dalam nestapa dan menjadikan lara serta pedihnya penderitaan selalu bersama hari-hari.

Jika hari-hari berlalu, katakanlah, “pergilah, jangan risaukan kami (karena kepergianmu). Dan tinggallah engkau wahai orang yang kesucian dan kemurniannya tiada dua.”

Setiap yang tidak termasuk jenis ikan akan kenyang oleh air. Barang siapa miskin papa, hari-harinya akan terasa begitu panjang.

20 September 2008

Masnawi Jalaluddin Rumi

Salah satu karya besar dalam bidang sastra adalah Masnawi karya Jalaluddin Rumi. Puisi ini berjumlah kurang lebih 25 ribu sajak. Sudah diterjemahkan dalam beberapa bahasa dan dianggap sebagai salah satu karya yang paling sulit diterjemahkan karena kedalaman maknanya. Tiap kata selalu mempunyai acuan namun tidak semua acuan mengacu pada satu kata. Satu kata bisa mengacu pada banyak hal dan itulah yang ada dalam kata-kata yang terangkai dalam masnawi. Bait-bait berikut ini adalah hasil terjemahan saya atas masnawi versi bahasa arab yang diterjemahkan oleh Dr. Muhammad Abd Salam Kafafi. Muh. Kafafi meninggal saat sedang engerjakan proses penerjemehan ini. Dia baru berhasil menyelesaikan 2 jilid dari 6 jilid Masnawi. Dia sempat mewariskan proyek intelektualnya tersebut kepada muridnya.
Terjemahan Indonesia ini adalah mimpi personal untuk menghadirkan masnawi secara utuh ke hadapan pembaca tanah air. Kritik atas hasil terjemahan ini sangat saya tunggu demi kesempurnaan masnawi versi indonesia. Dalam bulan ini saya akan berusaha menampilkan sepuluh bait masnawi per tiga hari.
Selamat membaca!


Kudengar bagaimana seruling menceritakan kisahnya. Ia meratapi pedihnya perpisahan

"Semenjak dipotong dari rumpun bambu, semua orang menangisi tangisanku

Kudendangkan dada yang sesak karena perpisahan hingga terasakan pedihnya kerinduan

Setiap yang jauh dari asalnya senantiasa akan mencari saat pertemuan

Pada tiap komunitas, aku menjadi sang peratap dan teman orang-orang yang menderita, pun mereka yang bahagia

Setiap insan merasa telah menjadi temanku, namun tak seorang pun pernah mengerti rahasia yang tersimpan di batinku

Rahasiaku berada tidak jauh dari diriku, namun apakah aku ada pada sinar mata atau telinga yang dengannya rahasia-rahasia ditemukan?

Jasad bukanlah tabir roh dan roh bukanlah tabir jasad, namun penglihatan mata roh tidak pernah diperkenankan untuk manusia

Suara seruling adalah api bukan udara, maka tidak ada orang yang hatinya tidak gelisah seperti api itu

Api yang menempati seruling adalah api cinta laiknya anggur yang menggelegak karena sesuatu yang ada di dalamnya, gelora cinta"

27 November 2007

Nestapa di Penggalan Surga

Orang kaya…

Menghambur uang seenaknya

Makan daging iga

Bayar dua juta

Saudaraku…

Hidup di dalam surga

Rumah di pinggir telaga

beratap cakrawala

dengan permadani semesta

berbantal kayu berselimut bayu

saudaraku yang lain

berlimpah butir-butir mutiara

dalam relung gua

yang digali bersama tawa

tapi tak pernah kenal aksara

Bapakku

Bertabur bijih kuning

Di sawah bernama padi

Di tanah bernama emas

Tapi tak tahu bagaimana menuainya

Aku

Penggalan surga katanya tempat tinggalku

Namun hanya saga dan nelangsa

lekat di sudut lambung dan jiwa

Jakarta, 3 Nov ‘07
"The Winner Never Quit and The Quitter Never Win"