Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

07 October 2008

To Philosophize is to Learn How to Die?

Saitya Brata Das

Those who apply themselves to philosophy in the proper
way are doing no more nor less than to prepare themselves
for the moment of dying and the state of death – Plato.

Philosophical thinking, as it is thinking of existence, is essentially finite
thinking. This is to say that as thinking of existence, philosophical
thinking is essentially also thinking of finitude. This ‘also’ is not the
accidental relationship between existence and finitude. Rather, to think
existence in its finitude, insofar as existence is finite, is to think existence in its existentiality. Philosophy that gives itself the task of thinking the relationship between existence and finitude, must in the same gesture, be concerned with its own finitude: to philosophize is not only to think the finitude of existence, but the very finitude of thinking that thinks finite existence.
To philosophize is not only to philosophize the finitude of existence as such, but also in so far as philosophising itself is a task which is essentially in itself finite. To assume as the task of thinking the finitude of existence is to think the very finitude of philosophical thinking: this is the profound relationship that exists between existence and philosophy, which is that philosophizing existence and an existential philosophy are essentially finite. This is perhaps what Socrates says
of philosophizing: ‘to philosophize is to learn how to die.’ “To philosophize is
to learn how to die”: this is to say, to philosophize is to learn that philosophy
and existence are essentially finite.
Philosophy and existence belong to finitude and gifts of finitude; therefore to philosophize is to learn how existence is this gift. To be able to learn how existence is this gift of finitude, to be able to assume this gift that makes existence essentially finite, which is to be able to
assume existence at all, is to be able to die.’ Learning to die’ then comes to
signify the ability of dying, which is in the same gesture, the ability of existing:
existence, and dying at the end must be this ability, of existing and dying.
Philosophizing must provide, then, the learning of this ability: to be capable of death and existence. To be capable of death is to master it, to be equal to it, to
surpass or transcend it and to be immortal. There seems to be a paradox here
which we must bring to thought. If to philosophize is to learn how to die, to
be equal to or master death, it thereby means to be immortal, to be able not to
die, to be capable of immortality; by learning to die, by learning to be capable
of death, we become capable of not-dying, or of immortality. To learn to die is
to learn how not to die.

26 September 2008

Narasi dan Kesadaran

Moralitas lebih sering dikaitkan dengan ajaran tentang bagaimana orang harus hidup dengan baik dan benar agar menjadi manusia yang baik. Sumber utama ajaran moral adalah tradisi dan adat istiadat, ajaran agama-agama atau ideologi. Adapun etika dipahami sebagai filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran dan pandangan-pandangan moral. Namun etika juga dianggap sebagai sebuah wacana normatif meski tidak selalu harus imperatif karena bisa juga hipotetis, yang membicarakan antara baik dan buruk yang dianggap sebagai nilai relatif.

Sebagai ilmu tentang moral, tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan, bukan semata-mata aspek normatif baik-buruk, benar-salah, etika terkait erat dengan cara berpikir seseorang. Jika cara berpikir seseorang berbeda maka keseluruhan pengalaman hidupnya juga akan berbeda. Di sisi lain, cara berpikir sangat terkait dan dipengaruhi oleh kondisi sosio, budaya dan historis.

Selama ini, proses berpikir dan pemahaman selalu dikaitkan dengan teks dan konteks. Akan tetapi, penalaran etika tampak lebih didominasi oleh prinsip-prinsip dasar yang seringkali terlepas dari konteks. Dalam penalaran etika, prinsip-prinsip rasional menjadi tempat berpijak dan menempati posisi kunci. Ironisnya, keinginan untuk menggunakan fondasi rasional bagi moralitas justru membuat teori moral kontemporer mengabaikan bahkan menolak signifikansi narasi bagi refleksi etis. Padahal narasi merupakan sebentuk bangunan ‘realitas’ yang mampu menjembatani antara prinsip-prinsip abstrak dengan realitas kongkrit.

Narasi sebagai bangunan yang mencerminkan realitas mampu membawa persoalan moral langsung ke hadapan audiens. Bahkan ketika memahami dan menjelaskan prinsip-prinsip etis seperti keadilan, kesabaran dan kebaikan pun selalu dibutuhkan adanya narasi yang akan mendekatkan konsep dengan konteks realitas. Melalui narasi, kebaikan-keburukan dan apa yang harus dan tidak harus dilakukan menjadi lebih gamblang dan kasatmata. Sebuah solusi etis tidak akan pernah bisa berlaku universal dan bisa dipakai untuk semua situasi. Dalam situasi semacam itu dibutuhkan visi untuk memandu pilihan tindakan yang akan diambil. Visi semacam itu bisa tercermin dalam narasi.

Narasi sebagai sebuah cerita menyediakan problem dengan berbagai solusi alternatifnya, baik yang disediakan oleh pengarang maupun dimunculkan oleh pembaca ketika bertemu dan berdialog dengan narasi. Sebagai sebentuk cerita, narasi tersedia dan berlimpah dalam kehidupan. Cerita-cerita sejarah, kisah kehidupan seseorang, karya fiksi, dan juga mitologi merupakan bentuk-bentuk narasi yang menjadi media untuk menjelaskan dan merefleksikan sebuah gagasan dan pilihan etis. Selain itu, narasi juga sering digunakan untuk berbagai hal, seperti menjelaskan perilaku manusia, mengartikulasikan struktur kesadaran manusia, menggambarkan identitas agen (baik manusia maupun Tuhan), serta menjelaskan strategi-strategi pembacaan (kitab suci). Namun tampaknya selama ini narasi masih sering diabaikan dalam kajian etika. Narasi masih sering dianggap sebagai wilayah sastra semata. Hal itu tidak terlepas dari pemaknaan sempit terhadap narasi yang hanya mencakup karya sastra, baik lisan maupun tulisan.

Dalam hal pembacaan, interpretasi dan pemahaman, ketika membaca dan menginterpretasi sebuah pesan, narasi selalu terlibat di dalamnya. Pemahaman seseorang akan sebuah teks selalu mencari model dari narasi yang terkait dengan tema teks tersebut. Misalnya pemahaman tentang kesabaran. Orang cenderung mendefinisikan kesabaran berdasarkan apa yang sudah dia ketahui dari narasi [sejarah] dan realitas sosialnya. Tanpa konteks sejarah, doktrin-doktrin moral semacam itu akan terputus dan kembali pada posisi awalnya, tanpa makna. Narasi semacam itu bertebaran dalam kitab [yang dianggap] suci.

Namun pertemuan narasi dan kesadaran tersebut bukannya tanpa masalah. Ketika sebuah narasi yang lahir dari sebuah kondisi sosio-historis tertentu dijadikan sebagai model pilihan dan sikap etis dalam sebuah kondisi sosial yang berbeda, ia sering menimbulkan persoalan. Problem itu terkait dengan pemakaian model yang tidak jarang berbenturan dengan nilai-nilai dan tradisi lokal. Fenomena semacam itu terepresentasi dalam perilaku sekelompok masyarakat beragama yang melakukan tipifikasi terhadap narasi-narasi kitab sucinya tanpa menimbang perbedaan konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Di samping itu, karena narasi selalu diciptakan maka ia [pasti] memuat pesan pengarang. Narasi semacam ini juga terdapat dalam kitab suci. Dalam narasi semacam itu, kadang terjadi polemik seputar kebenaran sejarah (reference) dan gaya penceritaan (sense) narasi. Di sinilah diperlukan kepekaan dan tanggungjawab ketika berusaha menangkap pesan yang terkandung dalam narasi agar tidak terjebak pada tipifikasi dan adaptasi membabi buta terhadap alur narasi. Selain itu, karena banyaknya narasi yang mungkin saja salah atau ’menyesatkan’ maka diperlukan dialog terbuka antara pembaca dengan narasi yang melibatkan narasi lain, baik yang berupa teks maupun narasi yang sudah terfigurasi dalam kesadaran pembaca. Narasi lain dan narasi yang terfigurasi menjadi imajinasi inilah yang akan mampu menyibak kebohongan ataupun kesalahan dalam sebuah narasi. Dengan begitu, pembacaan dan pemahaman terhadap sebuah narasi akan menjadi lebih sempurna.

Tipifikasi terhadap sebuah narasi merupakan sebuah kelaziman di kalangan (komunitas) kaum beragama. Berbagai cerita yang ada dalam kitab suci dan kisah kehidupan orang-orang suci telah menjadi penuntun dalam kehidupan setiap muslim. Namun internalisasi kisah-kisah tersebut, bisa menjadi persoalan ketika itu hanya dilakukan terhadap alur ceritanya tanpa melihat aspek sosial historis yang melingkupinya. Segala yang telah dilakukan dan dikatakan selalu mempunya latar belakang historis. Oleh karena itulah maka tipifikasi terhadap apa yang dilakukan pada masa lalu, terutama dalam konteks sosial, bisa menimbulkan persoalan. Dalam konteks jihad misalnya. Akan sangat riskan jika seorang muslim hanya melihat sebuah cerita mengenai peperangan antara Nabi dan sahabatnya dengan kaum kafir tanpa melihat persoalan politik, ekonomi, dan sosial waktu itu. Jika kisah semacam itu hanya dibaca sebatas alur ceritanya dan lantas disimpulkan bahwa muslim sekarang juga harus mengambil jalan perang melawan non muslim, hal itu akan tentu akan menimbulkan persoalan serius. Dibutuhkan keluasan wawasan mengenai setiap narasi yang mencakup unsur intrinsik dan ektrinsik yang terdapat dalam narasi tersebut. Dengan begitu kesalahan pemahaman (misunderstanding) dan tipifikasi membabi buta akan bisa dihindari.

Meski begitu, tetap diperlukan prinsip-prinsip non naratif sebagai penopang dan pengontrol dalam proses duplikasi narasi dalam kesadaran. Bagaimanapun, sebuah pemahaman selalu mengandaikan langkah berikutnya, yaitu aplikasi pemahaman. Untuk menghindari kesalahan pemahaman diperlukan narasi lain sebagai komunikan bagi sebuah narasi. Tetapi dalam aplikasinya, diperlukan aspek-aspek non naratif sebagai penopangnya. Dialektika antar narasi di satu sisi dengan yang naratif dan non naratif di sisi lain inilah yang akan mampu membuat bangunan etika naratif dan menjadikan kesadaran naratif bisa ramah lingkungan dan membumi.[]

25 September 2008

Narasi dan Story

Setiap kali menyebut kata 'narasi' maka yang muncul di memori kita adalah cerita. Hal itu seringkali merupakan simplifikasi. Narasi sering hanya diartikan sebatas wilayah sastra. Ketika berbicara tentang narasi, imaji kita langsung terarah kepada teks sastra. Hal itu diperparah dengan kondisi pendidikan di kampus yang sering memaknai kajian narasi sebatas pada kajian sastra. Kita sering tidak menganggap bahwa narasi lebih luas dari hanya sebatas wilayah sastra. Narasi terhampar di hadapan kita dalam beragam bentuk, kata Saussure. Paul Ricoeur membedakan narasi berdasarkan referensinya menjadi narasi fiksi (fictional narrative) dan narasi sejarah (histhorical narrative). Sedangkan dari segi isi, narasi dibedakan antara story (isi/muatan cerita) dan discourse (gaya cerita). Dalam narasi, story adalah "What" atau apa yang dikisahkan, sedangan discourse adalah "Why" (bagaimana kisah itu diceritakan).

Karena struktur narasi yang seperti itu maka narasi tidak cukup hanya disekap dalam ranah sastra. Narasi berserakan di setiap sudut kehidupan dalam bentuk cerita, baik dikisahkan maupun diperankan, dituturkan maupun dituliskan, dalam bentuk gambar baik yang bergerak maupun tidak, dalam bentuk mitos, legenda, biografi, sejarah, novel, drama dan lain sebagainya.

Narasi juga telah menjadi kecenderungan pembentukan pola pikir dan bahkan sikap hidup dengan cara melakukan tipifikasi atas narasi-narasi yang terbaca, terdengar dan terlihat. Narasi telah menggerakkan kesadaran berjuta manusia untuk bertindak berdasarkan intelegensi naratif yang kadang tidak mereka sadari. Intelegensi yang lahir dan hadir dari perjumpaan dengan narasi-narasi lain di luar diri manusia maupun narasi yang sudah mengendap dan terfigurasi menjadi memori yang selalu menjadi referensi dalam berbagai pilihan sikap dan tindakan.

Sayangnya, tampaknya kita masih menganggap narasi hanya dunia lain yang cukup menyenangkan untuk diceritakan (story telling) dan mengasyikkan untuk didengarkan (story hearing). Banyak dari kita tidak cukup cermat menangkap beban tanggungjawab dari setiap apa yang kita ceritakan dan kita dengar.

Jika kita bersedia membuka memori dan menyusun narasi diri yang telah kita bangun, misalnya, maka kita mungkin akan terhenyak melihat hidup kita yang bukan hanya sebatas penggalan-penggalan cerita melainkan sebuah rangkaian panjang cerita diri yang kita goreskan semenjak kita terjun ke dunia dan menarik titik kelahiran menuju titik akhir yang bernama kematian.

Persoalannya, bukana hanya bagaimana cerita diri kita tetapi lebih pada bagmana kita menciptakan cerita diri kita tersebut. Tanpa cerita diri yang disadari, dijalani dan dihayati, kita mungkin hanya akan menjadi seoonggok daging dengan aliran darah yang memenuhi muka bumi. Kita tidak boleh berjalan dan mengalir bersama hari tanpa menyadari bahwa kita sedang menuliskan cerita diri kita.
"The Winner Never Quit and The Quitter Never Win"